Prodi Fisika ITERA Gelar Stadium General Series 1, Bahas Hilirisasi Hasil Riset dan Fungsionalilasasi Bahan Alam

Kamis, 14 April 2022

Pada Kamis, 14 April 2022 Program Studi Fisika ITERA mengadakan rangkaian Stadium Generale Series. Pada kesempatan kali ini pembicara yang diundang dalam gelaran acara SG kali ini adalah Bapak Prof. Dr. Eng. Kuwat Triyana, Ph.D dari Universitas Gadjah Mada dan Bapak Dr. Dhewa Edikresnha, B.Eng., M.Si. dari Institut Teknologi Bandung.

Sebelum stadium general (SG) dimulai, acara dibuka dengan Sambutan dari Kaprodi Fisika ITERA, Bapak Dr. Eng. Alamta Singarimbun, M.Si. Dalam sambutannya, beliau menyampaikan bahwa dengan adanya SG ini, peserta secara khusus mahasiswa diharapkan dapat belajar dan menambah wawasan serta pengetahuan tentang materi yang dipaparkan oleh kedua narasumber.

Untuk pemateri yang pertama adalah bapak Prof. Kuwat Triyana, beliau merupakan Dekan FMIPA UGM. Pada awal penyampaian materi Prof Kuwat memaparkan materi mengenai Hilirisasi inovasi luaran riset di Perguruan Tinggi.

Gambar 1. Pemateri pertama saat memaparkan materi hilirisasi inovasi luaran riset di perguruan tinggi.

Beliau menjelaskan inovasi di Idonesia masih kalah jauh dibanding negara lain, hal ini terlihat dalam Global Inovation Rangking Indonesia menempati nomor 87 dari 132 negara yang salah satu faktornya dikarenakan akibat masih kurangnya inovasi dalam produk penelitian para peneliti kita.

Prof Kuwat menjelaskan sebenarnya inovasi dalam penelitian tidak perlu dimulai dari topik yang berat, contoh kasus penggunaan indra yang bisa dimodelkan dari material fungsional dan komputasi, contohnya pengembangan sensor electronic nose yang kini digunakan secara masal dalam uji Covid-19.

Gambar 2. GeNose C19, salah satu inovasi dan produk hilirisasi Prof. Kuwat Triyana dan tim.


Salah satu karya dari Prof Kuwat yang lain adalah pengembangan alat electro spinning yang memiliki karakteristik untuk membuatan bahan nanosensor.

Gambar 3. Gambaran tingkat kesiapterapan teknologi.

Adapun masalah hilirisasi dalam inovasi luaran riset, Prof Kuwat memaparkan luaran riset perguruan tinggi masih sampai dalam tahap TRL 5, sedangkan produk inovasi dapat dilirik oleh para pengusaha untuk produksi masal apabila dalam tahap TRL 9. Hal inilah yang membuat Prof Kuwat fokus membuat bridging antar produk penelitian universitas dan hilirisasi usaha (bernilai bisnis) lewat PT Nanosense Instrument Indonesia. Hal ini dapat dicontoh oleh universitas lain termasuk ITERA dengan membentuk start-up produk produk penelitian.

Beliau juga menyampaikan salah satu kesalahan akdemisi dalam menghasilkan produk penelitian adalah hanya berfokus pada kemauan pebisnis atau pengusaha bukan kepentingan konsumen.

Gambar 4. Contoh prototipe alat riset kalibrasi inovasi Prof. Kuwat Triyana dan tim. 

Pemateri yang kedua disampaikan oleh Pak Dhewa yang memaparkan riset yang pernah beliau kerjakan yakni tentang pembuatan hidrogel yang termuati ekstrak bahan alam sperti sirih merah dan daun jambu biji, dengan salah satu aplikasinya adalah penyembuh luka.

Gambar 5. Pemateri kedua saat memaparkan materi fungsionalisasi bahan alam, seperti sirih merah dan daun jambu biji.

Contoh kedua bahan ini masih sangat lokal, artinya hanya ditemukan di Indonesia. Di Indonesia sendiri ungkap beliau, masih banyak keaneragaman hayati yang bisa dimanfaatkan sebagai bahan penelitian yang diakui secara internasional. Adapun Riset riset yang dikembangkan oleh Pak Dhewa dan tim berasal dari keberagaman hayati Indonesia seperti Serai Wangi, Meniran, dan Temu Wangi. Karena tanaman tanamna ini bersifat lokal maka ini menjadi peluang untuk para peneliti mengembangkan potensi daerah masing masing yang menjadi karakteristik unik bagi peneliti indonesia.

Gambar 6. Uji Anti bakteri hidrogel dari bahan alam dengan metode freeze-thaw.

Beliau juga menyampaikan rendahnya pemanfaatan potensi di Indonesia ditujukan dengan jumlah publikasi kita yang amat sedikit dibanding negara tetangga contohnya Singapura. Padahal potensi pengembangan produk hayati lokal di indonesia sangatlah besar.

Beliau memaparkan metode yang beliau gunakan dalam mensitesis hidrogel yakni metode freeze-taw dengan keunggulan tidak memiliki sifat toxic, dan hanya berhasil apabila materi dasarnya menggunakan PVA, karena memiliki gugus -OH yng mebentuk ikatan hidrogen pada saat freezing. Selebihnya beliau memaparkan mengenai perjalan riset disertasi beliau dan memotivasi mahasiswa agar jeli melihat peluang penelitian lewat ragam hayati di Indonesia.

Di akhir acara, Kaprodi secara simbolis memberikan sertifikat kepada pemateri sebagai ucapan terimakasih karena sudah bersedia berbagi wawasan dan ilmu diacara SG series 1 ini. (N. N. I)

Gambar 7. Pemberian sertifikat kepada pemateri kedua, Dr. Dhewa Edikresnha
Gambar 8. Foto bersama peserta stadium general series 1.
Gambar 9. Foto bersama peserta stadium general series 1

Leave a Comment

Your email address will not be published.

Scroll to Top